Rabu, 12 Agustus 2009

KOMPOSISI MUSIK SENGGULAT MBACANG

DESKRIPSI KARYA

SENGGULAT MBACANG









PULUMUN PETERUS GINTING
NIM. 278/S2/CS/07







PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI PENCIPTAAN SENI
PROGRAM PASCA SARJANA
INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA
2009


SENGGULAT MBACANG





Karya seni untuk memperoleh derajat Magister Seni
Pada Program Magister Program Studi Penciptaan Seni
Program Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia (ISI)
Surakarta







PULUMUN PETERUS GINTING
NIM. 278/S2/CS/07







PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI PENCIPTAAN SENI
PROGRAM PASCA SARJANA
INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA
2009



ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas berkat dan lindunganNya saya dapat menyelesaikan karya tugas akhir ”Senggulat Mbacang” pada Program Studi Penciptaan Seni Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta.
Pada kesempatan ini disampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya saya haturkan kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian karya ini mulai dari persiapan, proses hingga pelaksanaan ujian. Penyusunan karya dan penulisan ini bisa sampai tuntas, tentunya tidak terlepas dari pihak-pihak yang telah memberi bantuan serta dukungan kepada penulis mulai dari pengumpulan data, persiapan sampai proses karya, penyelesaian hingga penyempurnaan karya ini.
Ucapan terima kasih ditujukan kepada : Rektor Universitas Negeri Medan lewat Ketua Jurusan Sendratasik atas izin yang diberikan untuk melanjutkan studi pada Program Studi Penciptaan Seni Institut Seni Indonesia Surakarta; Rektor Institut Seni Indonesia lewat Direktur Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia yang telah menerima sebagai mahasiswa dan seluruh staf Program Pascasarjana yang telah melayani hal-hal yang terkait dengan dengan administrasi serta para dosen yang telah membimbing dalam menempuh seluruh mata kuliah dan ujian sehingga seluruh persyaratan dalam menyelesaikan studi ini dapat terpenuhi.
iii
Terimakasih yang sebesar-besarnya penyusun haturkan kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian karya ini hingga pelaksanaan ujian : Institut Seni Indonesia Surakarta sebagai lembaga yang mewadahi ; Prof. Dr. Selamat Suparno S.Kar, Ms Selaku Rektor, Prof. Dr. Sri Hastanto direktur Pascasarjana ISI Surakarta ; Prof. Dr. Rahayu Supanggah dan Prof. Dr. Rustopo.
Terimakasih secara khusus penyusun haturkan kepada Prof. Dr. Pande Made Sukerta, selaku guru besar sekaligus pembimbing atas segala bimbingan, segala pengertian, kebijaksanaan, dorongan semangat, dan pendidikan disiplin yang luar biasa.















iv



DAFTAR ISI


HALAMAN SAMPUL i
HALAMAN PERSYARATAN GELAR MAGISTER ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang Karya 1
1.2 Pembicaraan Rujukan 3
1.3 Tujuan dan Manfaat 10

BAB II KEKARYAAN 12
2.1 Gagasan 12
2.2 Garapan 12
2.3 Bentuk Karya 14
2.4 Media 15
2.5 Deskripsi Sajian 15
2.6 Orisinalitas Karya Seni 18

BAB III PROSES PENCIPTAAN SENI 19
3.1 Observasi 19
3.2 Proses Berkarya 20
3.3 Hambatan dan Solusi 21

BAB IV PERGELARAN KARYA 22
4.1 Sinopsis 22
4.2 Deskripsi Lokasi 23
4.3 Penataan Pentas 23
4.4 Durasi Karya 24
4.5 Susunan Acara 24
4.6 Pendukung Karya 24

DAFTAR ACUAN 26
GLOSARIUM 27
LAMPIRAN 27
BIODATA 27



V

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Karya
Karo adalah salah satu suku bangsa dari banyak etnis dan sub-etnis yang ada di Kepulauan Nusantara. Keabsahannya sebagai suku bangsa terbukti dalam mereka mempunyai kebudayaan yang berbeda dengan yang dimiliki oleh suku bangsa lain.
Koentjaraningrat dalam bukunya Pengantar Ilmu Antropologi (1986), menyebutkan kebudayaan dapat dibagi menjadi tujuh unsur kebudayaan, dan salah satu diantaranya adalah yang berhubungan dengan kesenian. Kesenian itu sendiri masih terdiri dari beberapa bagian seperti seni musik, sastra (cerita rakyat,pantun), tari, ukir (pahat).
Pada masyarakat Karo kebudayaan yang berhubungan dengan kesenian ini masih ada. Seni ini ada yang masih dipertahankan oleh mereka, terutama di wilayah yang masih homogen secara etnik dan budaya. Seni ini menjadi tradisi turun-temurun bagi mereka, namun di beberapa wilayah wilayah yang heterogen secara etnik, ada beberapa bagian dari kesenian ini yang hampir punah keberadaannya, bahkan ada yang hilang sama sekali. Hal ini disebababkan karena sudah mengalami perubahan-perubahan dalam cara berpikir dan dalam kehidupan sehari-harinya sudah banyak dipengaruhi oleh budaya lain.
Salah satu seni yang hampir hilang adalah turin-turin (cerita rakyat) Senggulat Mbacang. Padahal cerita tersebut sangat menarik dan unik, karena dalam penceritaannya banyak yang menyangkut dengan fenomena-fenomena kehidupan sehari-hari manusia khususnya masyarakat Karo. Cerita senggulat mbacang menceritakan tentang seorang putri Raja yang bernama Rudang Bulan mencintai seorang pengasuh kuda yang bernama Tare Iluh.
Ketika Rudang Bulan menanjak dewasa ayahnya menghadiahi seekor kuda dan sekali gus mempercayakan Tare Iluh untuk mengurus dan sekaligus mengajari putrinya untuk menungganginya. Dari situlah kemudian tumbuh rasa cinta diantara mereka.
Dulunya cerita senggulat mbacang sering diceritakan di jambur (balai desa),dan kedai kopi yang ada di desa-desa tanah Karo. Dalam penceritaannya lagu katoneng-katoneng yaitu lagu yang sering dinyanyikan secara spontanitas oleh beberapa yang bisa menyanyikannya sangat berperan, karena dari lagu tersebut bisa membawa kita ke alam yang sedih dan gembira.cerita yang sedang diceritakan.
Dengan melihat uraian diatas, penulis tertarik untuk menggarap dan menciptakan sebuah karya musik yang utuh sesuai dengan hal yang dijelaskan pada latar belakang masalah diatas dengan judul : SENGGULAT MBACANG.


1.2. Pembicaraan Rujukan
Karya ini lahir terinspirasi oleh sebuah cerita rakyat yang mengisahkan cinta seorang putri Raja kepada seorang pemuda yatim. Dari fenomena-fenomena yang tergali dalam cerita ini sehingga tercipta sebuah karya musik yang baru.
Kisah ini bermula ketika Raja Kepultaken menghadiahkan seekor kuda kepada putri kesayangannya, yaitu Rudang Bulan, karena putrinya dianggap sudah dewasa. Dengan senang hati Rudang Bulan menerima hadiah dari ayahnya. Sedangkan untuk mengurus kuda tersebut Raja mempercayakan seorang pemuda yatim yang bernama Tare Iluh sekaligus sebagai penjaga putri ketika berlatih.
Karena seringnya mereka bertemu, lama kelamaan tumbuhlah rasa cinta diantara keduanya. Meskipun pada saat itu keduanya belum mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.
Sementara dikerajaan lain, yaitu Kerajaan Kesunduten ( Kerajaan Barat ) Putra mahkotaa yang bernama Dat Cembung mendengar, bahwa di Kerajaan Kepultaken (Kerajaan Timur) terdapat Putri Cantik yang bernama Rudang Bulan. Maka Dat Cembung berniat mempersunting Rudang Bulan tersebut. Kedatangan Dat Cembung dan ayahnya Raja Kesunduten di Kerajaan Kepultaken disambut dengan baik oleh Raja Kepultaken, dan kedua Raja tersebut sepakat untuk menjodohkan Putra dan Putri Mereka. Terdengarlah sebuah janji yang diucapkan Ayahnya dan Raja Kesunduten untuk menjodohkan dirinya dengan Dat Cembung.
Pada suatu hari, Rudang bulan menemui Tare Iluh dan mengungkapkan rasa cintanya kepada Rudang Bulan, begitu pula Tare Iluh mengucapkan hal yang sama. Mereka berjanji sehidup semati apapun yang terjadi. Segalanya dibagi bersama, dirasakan bersama, Rudang bulan meminta kepada Tare Iluh agar membawa dirinya lari dari kerajaan karena ayahnya akan menjodohkan dirinya dengan Dat Cembung, Putra mahkota Kerajaa Kusunduten.
Begitulah, dalam perjalanan melarikan diri dan ketika sudah lelah, mereka istirahat dibawah pohon mbacang yang rindang. Ketika Rudang Bulan tertidur karena letih dan lapar, Tare Iluh memakan seiris mangga yang jatuh didekatnya. Tare Iluh membuka baju, untuk membungkus sisa mangga yang sudah dia makan, dan sisanya dia akan berikan kepada kekasihnya nanti. Pada saat Tare Iluh tidur, Rudang Bulan melihat kulit mangga yang berserakan. Dia marah dan kecewa karena dia menyangka kekasih yang dibelanya mati-matian ternyata tidak bisa memegang janji. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali kekerajaan dan bersedia di persunting oleh Putra Mahkota Raja Kesunduten.
Sementara itu sepeninggal Rudang Bulan, Tare Iluh hidup mengembara sendirian dari desa ke desa selama bertahun-tahun, hingga suatu hari dia bertemu dengan seorang pengembala kambing yang mahir bermain catur. Sejak saat itu pengembala kambing menjadikan Tare Iluh sebagai anak angkatnya. Disela-sela pekerjaanya menggembala, setiap hari mereka bermain catur hingga akhirnya Tare Iluh menjadi seorang pecatur yang handal di kawasan itu. Tare Iluh Mendengar kabar Raja kepultaken dan Raja Kesunduten telah meninggal. Sehingga kedua kerajaan digabung menjadi satu dan di Rajai oleh mahkota Kerajaan Kesunduten Dat Cembung yang berpermaisurikan anak dari Raja Kepultaken Rudang Bulan.
Suatu ketika Raja yang dikenal sebagai pecatur tiada tanding, menantang siapa saja yang berani bermain catur dengannya. Jika ada yang berhasil mengalahkannya dia rela menyerahkan sebahagian dari kerajaannya. Namun sebaliknya yang kalah harus menerima hukuman mati. Kabar itu akhirnya sampai ketelinga Tare Iluh. Berangkat lah Tare Iluh kekerajaan tempat pertandingan catur, sebelum keberangkatannya Tare Iluh meminta doa restu dari ayah angkatnya.
Syarat pertama yang harus dilakukan Tare Iluh adalah mengalahkan dulu semua pemain catur yang diundang dari segala penjuru Kerajaan. Setelah Tare Iluh mengalahkan semua pecatur-pecatur tersebut bertandinglah Tare Iluh dengan Raja Dat Cembung. Sebelum pertandingan dimulai, Raja berpikiran, tidak mungkin dalam pertandingan catur ini, dia dapat dikalahkan oleh pemuda yang dihadapannya. Apalagi penampilan pemuda tersebut seperti halnya rakyat jelata kebanyakan.
Tare Iluh meminta dengan rendah hati supaya permaisuri Raja dapat melihat dan duduk disebelah Raja untuk melihat pertandingan catur tersebut. Karena Raja menganggap itu hanya permintaan sebelum dia dibunuh, maka permintaannya dikabulkan, bahkan Raja memperbolehkan permaisurinya duduk diantara mereka ketika pertandingan berlangsung. Kehadiran Tare Iluh tidak dikenal oleh siapapun, termasuk Rudang Bulan sebagai permaisuri karena rambutnya telah panjang, tumbuh janggut dan cambang yang tak terurus.
Pertandingan berlangsung seru dan ditonton oleh siapa seluruh kerabat kerajaan termasuk rakyat. Pertandingan berlangsung selama tiga set. Selama pertandingan berlangsung Tare Iluh selalu menyanyi dengan syair-syair yang sedih tentang kisahnya dulu. Ketika sedang memikirkan langkah catur selanjutnya, Tare Iluh melanjutkan nyanyiannya yang mengenang nostalgia ketika mereka melarikan diri dari Kerajaan. Babaken aku kiam kaka, sab persada bapa atena aku ras anak Raja Kesunduten si la ateku ngena njanah la ateku jadi, bage kal nindu ndube impal ( bawa aku pergi dari kerajaan ini, karena aku tidak mencintai orang yang dijodohkan orang tuaku, putra dari Kerajaan Kesunduten , itulah yang engkau ucapkan dulu) sambil Tare Iluh melantunkan dengan irama ”katoneng-katoneng”[1]. Demikianlah Tare Iluh mengungkapkan isi hatinya yang sekian lama dia sudah memendamnya. Raja dan orang-orang yang hadir tidak peduli dengan syair nyanyiannya. Tapi Rudang Bulan, matanya berkaca-kaca menahan sesak didada. Sebuah pertanyaan terjawab.
Set pertama dimenangkan oleh Tare Iluh, yang kemudian dilanjut ke set kedua. Pada set yang kedua ini syair yang dinyanyikan oleh Tare Iluh, ”adi lit sada tersembelah kita nindu, njanah adi lit dua nonggal sada kita. Bage kal nindu ndube impal” ( jikalau ada satu, belahlah, berikan aku setengah dan jikalau dua berikan aku satu, itulah ucapanmu sebelum kita pergi), saat Raja memikirkan langkah caturnya pada set yang kedua, selanjutnya Tare Iluh bernyanyi lagi, ”adi pinget-ingetndu pe impal, sangana kam keke bas pedemendu nari, lanai ndube aku erbaju erkite-kiteken kubaluti sisa mbacang sienggo kupan senggulat, mbiar kal aku perkisen njanah rengiten, tapi senggulat mbacang kal kap erbahansa aku tading turang, senggulat mbacang kal erbahansa kita sirang impal ateku jadi, ateku keleng inget-ingetenku suari berngi” ( jikalau engkau ingat , ketika bangun dari tidurmu dan melihat kulit mbacanag yang berserakan di tanah, namun sisa dari mangga, telah aku bungkus dengan bajuku, karena aku kuatir sisa mangga akan habis dimakan semut dan nyamuk, tetapi karene seiris mbacang engkau tinggalkan aku, ingatlah dan ingatlah ketika itu aku sudah tidak memakai baju. Kukorbankan badanku tanpa penutup di hutan yang luas. Semua kulakukan karena aku sangat menyayangi dirimu).
Semua orang yang ikut menyaksikan pertandingan catur antara Tare Iluh dengan Raja, tidak mempedulikan dan bahkan tidak ada yang mendengar syair-syair yang ia nyanyikan, pikiran mereka hanya terfokus ke papan catur. Hanya Rudang Bulan yang tahu. Berjuta penyesalan terbayang diwajahnya, dan akhirnya dia paham siapa sebenarnya yang duduk didepannya. Iluhna maler ku pusuh (air matanya mengalir ke hati yang dalam), itulah yang dirasakannya.
Dipikiran orang-orang yang ikut menyaksikan menganggap Raja akan dikalahkan oleh Tare Iluh. Hal itu mereka dapat lihat dari langkah-langkah bidak catur yang sudah mereka lihat sebelumnya. Namun pada set yang ke dua, percaturan dimenangkan oleh Raja. Saatnya set ke tiga atau yang terakhir.
Ketika set ini berlangsung, Tare iluh melanjutkan lagi nyanyiannya, ”sada kal nge ngenca kupindoken man nini siarah lebeta, kesah ku e pe pagi kuasamken nini labo dalih, gelah lit dengakal pagi dalanna aku jumpa ras impalku siateku jadi ras inget-ingetenku suari berngi. Enda enggo kam kutatap impal emaka malemkal nge nggo ateku anum kepaten pe nirangken kita” sss ( aku selalu meminta kepada Leluhur, beri aku kesempatan sekali saja untuk melihat orang yang paling aku cintai, yang tak pernah kulupakan siang dan malam dan jika doaku terkabul aku rela mati. Doaku terkabul. Sekarang engkau duduk didepanku, hatiku puas dan puas, aku sudah melihatmu)
Betapa serunya set ketiga ini, karena set inilah yang menentukan siapa yang akan memenangkan percaturan. Raja tahu Tare Iluh akan mengalahkannya. Hal ini bisa dilihat dari permainan set yang ke dua. Namun, Tare Iluh sengaja mengalah kepada Raja. Semua orang yang ikut menyaksikan pertandingan ini mengira, bahwa Raja dapat dikalahkan, tapi sebaliknya Tare Iluh lah yang dikalahkan oleh Raja.
Dalam hati, semua orang bertanya mengapa ini bisa terjadi, padahal dia tahu apabila dia menang maka sebagian dari Kerajaan akan diberikan, tapi sebaliknya apabila dia kalah maka dia akan di pancung. Raja juga merasa bahwa Tare Iluh sengaja mengalah, karena sebenarnya Tare Iluh bisa mengalahkannya.
Akhirnya hukuman tetap harus dijatuhkan. Tare iluh siap menerima hukuman itu, tapi dia minta kepada Raja agar dia dibakar dalam sebuah lubang di dalam hutan. Raja mengabulkan. Sore itu mereka semua mengantar Tare Iluh ketempat yang diinginkannya yaitu dibawah sebuah pohon mbacang yang sudah semakin besar dan rindang. Tare iluh menunjukkan dimana persisnya lubang yang akan digali. Lubang yang digali persis ditempat mereka istirahat dengan Rudang Bulan ketika dirinya ditinggal. Malam tiba, Tare Iluh dimasukkan ke lubang yang sudah digali dan dipenuhi kayu kering dan disiram minyak, sebelum pembakaran Tare Iluh memanggil Raja dan berkata, ”Raja, mindo aku gelah kembrahenndu ngambekken obor e kubas lubangku” ( Raja, sekali lagi aku mohon, suruh permaisuri yang melemparkan obor kedalam lubangku). Raja mengabulkan.
Rudang Bulan memegang obor. Sebelum dia melemparkan obor dia minta pada semua yang ikut tak terkecuali Raja, untuk meninggalkan tempat itu, dan tidak boleh ada yang menoleh kebelakang sebelum api yang membakar lubang itu padam. Rudang bulan pun akhirnya menebus kesalahannya. Sampai dikerajaan Rudang Bulan tidak ada lagi diantara mereka. Dia menepati janjinya.

Rujukan sebagai sumber tertulis untuk penciptaan karya ini belum saya temukan, namun dapat saya katakan bahwa hasil nantinya sangat erat hubungannya dengan adat-istiadat pada masyarakat Karo. Sebagai salah satu seniman musik tradisi Karo saya sering bertanya dan belajar tentang budaya Karo terutama yang menyangkut musiknya. Rekaman audio ansembel Sarunai, Kulcapi, dalam lagu Simalungun rayat yang direkam oleh Jasa Tarigan, Tukang Ginting, dan beberapa seniman pada masyarakat karo menjadi salah satu sumber rujukan dalam penciptaan karya ini.
Dari rekaman audio tersebut saya akan menciptakan teknik baru dan melodi baru tanpa meninggalkan esensi tradisi Karo. Seniman Karo tidak akan menyadari hal ini apalagi masyarakat Karo sendiri. Sebagai misal saya pernah ketemu dengan seorang seniman Karo yang dianggap sudah senior, ketika saya menceritakan rencana tugas akhir saya, dia justru kaget mendengarnya. Katanya, kenapa kami tidak pernah menyadari hal itu dapat dilakukan.(wawancara dengan Sorensen Traigan, januari 2008)

1.3. Tujuan dan Manfaat
1.3.1. Tujuan
Karya senggulat mbacang diciptakan untuk mencoba apakah cerita rakyat dapat dituangkan dalam bentuk karya musik, dengan menggunakan elemen-elemen tradisi yang ada di Sumatera utara khususnya Tanah Karo sendiri. Sejauh ini belum ada pencipta/komponis menciptakan komposisi musik yang terinspirasi dari cerita rakyat dituangkan sepenuhnya dalam karya komposisi musik yang baru, khususnya dari cerita masyarakat Karo. Disamping itu tentu saja meningkatkan wawasan, kemampuan dan keterampilan saya dalam menciptakan komposisi musik baru yang bertolak dari kesenian tradisi.

1.3.2. Manfaat
Akar penciptaan karya senggulat mbacang tidak terlepas dari tradisi Karo, tentunya komposisi ini akan memberikan kontribusi dan manfaat pada perkembangan penciptaan musik yang baru, dimana saya akan mengembangkan komposisi dengan idiom-idiom baru tanpa harus meninggalkan element tradisi, menambah khasanah komposisi musik baru di Indonesia khususnya Sumatera Utara, menjadi sarana apresiasi dalam kerangka perkembangan budaya, memberikan sebuah tawaran baru kepada komposer muda di Sumatera Utara dan sebagai dokumentasi dan salah satu usaha saya untuk perkembangan musik tradisi Karo. Karya ini juga bermanfaat untuk lebih memasyarakatkan hasil dari karya komposisi dan bisa diakui oleh masyarakat, khususnya masyarakat Karo dan seniman Sumatera Utara dan yang paling pokok adalah untuk memenuhi tugas akhir dalam meraih gelar kesarjanaan strata II Program Studi Penciptaan Seni ISI Surakarta.



BAB II

KEKARYAAN


2.1. Gagasan Isi

Senggulat Mbacang, mengisahkan tentang tragedi cinta seorang putri Raja dari Kerajaan Kepultaken (Kerajaan Timur) yang bernama Rudang Bulan dengan seorang pemuda yatim, pengasuh kuda yang bernama, Tare Iluh. Cerita ini mengisahkan tentang tragedi cinta.
Ketertarikan masyarakat Karo secara mendengar cerita ini, sehingga penggarap berniat untuk menuangkan cerita tersebut ke dalam sebuah penggarapan musik yang utuh. Penggarap berusaha menginterpretasikan unsur-unsur kejadian dalam cerita, baik dari fenomena sosial, peran moral, kultural, jiwa, isu dan sebagainya. Dari fenomena ini penyusun menemukan beberapa unsur yaitu kesetiaan, perbedaan budaya, strategi, dan identitas.
Gagasan penciptaan musik Senggulat Mbacang ini, diciptakan sesuai dengan kreativitas penggarap. Dalam hal ini penggarap banyak dapat bimbingan dari Profesor yang membimbing penggarap.

2.2. Garapan
Musik tradisi Karo secara umum mempunyai tiga jenis lagu yaitu simalungun rayat, odak-odak, dan patam-patam. Ketiga jenis ini mempunyai pola ritmis yang berbeda- beda. Misalnya dalam tempo, lagu simalungun rayat bertempo lambat MM=60-65, odak-odak bertempo sedang MM=93-97, patam-patam bertempo cepat MM=100-105.
Dari masing-masing lagu diatas terbagi lagi kedalam empat sampai enam jenis ritmis yang berbeda. Misalnya lagu simalungun rayat yang bertempo lambat mempunyai enam pola ritmis yang berbeda. Sedangkan dua jenis lagu yang lain mempunyai empat pola ritmis yang berbeda.
Dalam menggarap komposisi senggulat mbacang saya lebih dominan untuk mengolah pola ritmis simalungun rayat, karena menurut saya pola ritmis inilah yang paling komplek untuk dikembangkan dalam sebuah garapan. Sedangkan untuk variasi, saya mengolah juga dari dua jenis lagu lainnya.
Dari keempat jenis pola ritmis ini, akan diciptakan sebuah melodi dengan modus yang terdapat pada musik tradisi Karo. Melodi inilah yang nantinya akan dikembangkan dalam satu bagian komposisi. Perkembangan dari melodi ini akan tercipta sebuah lagu, dan saya akan mencoba bereksperimen menyanyikannya dengan gaya vokal klasik barat, yang diiringi oleh alat-alat musik tradisi.
Dalam cerita senggulat mbacang ada beberapa fenomena yang penting diketahui oleh masyarakat Karo. Berangkat dari fenomena diatas saya menangkap ada berbagai peristiwa yang terjadi, jika hanya dituangkan dalam komposisi musik apresiasi audiens tidak akan sampai pada apa yang diharapkan. Oleh karena itu saya akan memanfaatkan gerak, yang bersifat teatrikal.
Penggarapan karya komposisi musik ini tidak lepas dari latar belakang terutama pengalaman penyusun dalam menggeluti musik barat dan musik tradisi nusantara. Potensi instrumen yang fleksibel, mampu memberikan berbagai laras dan sistem nada yang bersifat tonal maupun atonal turut serta melatarbelakangi penyusun dalam penyusunan karya ini.
Eksplorasi bunyi dari beberapa macam etnik musik di Sumatera Utara yang tersaji dalam karya ini akan digarap dengan tetap mempertimbangkan estetik bunyinya. Selain vokal penggarapan komposisi mempunyai instrumen antara lain adalah:
- Jenis perkusi yang cenderung digunakan instrumen dari suku yang ada di Sumatera Utara
- Jenis gesek seperti biola dan cello
- Jenis petik seperti Kulcapi dan Hasapi
- Jenis tiup sepert sarunei, suling dan flute
Masing-masing instrumen dan vokal yang penyusun tentukan, diolah untuk menyuguhkan percampuran permainan instrumen dan vokal dalam berbagai macam laras. Instrumen dan vukal diperlakukan sangat terkait dengan esensi musik pada masyarakat Karo.




2.3. Bentuk Karya
Bentuk karya ini adalah penciptaan baru, namun terinsfirasi dari cerita rakyat. Walaupun dalam cerita rakyat tersebut tidak diiringi oleh unsur musikal namun cerita tersebut dapat mmberikan inspirasi pada penggarap untuk mevisualisasikan dalam garapan komposisi musik yang utuh. Supaya cerita rakyat tersebut dapat dipahami secara total maka bentuk karya inipun disesuaikan dengan berbagai unsur seni yang dominan seperti menggunakan instumen, vokal, gerak yang bersifat teatrikal.
Dalam komposisi musik Senggulat Mbacang ini, masing-masing bagian karya memiliki metode kompositoris yang berbeda. Karya-karya tersebut pada dasarnya bersumber dari penggarapan ritmis, yang pada perkembanga perwujudan karyanya menjadi sebuah jalinan garap vokal maupun instrumental.

2.4. Media
Untuk mengaktualisasikan gagasan isi dalam keseluruhan karya ini, penyusun menggunakan media instrumen dan vokal yang antara lain adalah dua gordang sembilan, empat taganing, dua gendang Karo, keteng-keteng, sarune, sulim, flute, biola, cello, gendang dua, dol, gong, penganak. Alasan penyusun memilih instrumn-instrumen tersebut adalah untuk mengunkapkan semua hal-hal yang terdapat dalam gagasanisi.

2.5. Deskripsi Sajian
Karya seni berjudul Senggulat Mbacang, sebuah penciptaan karya musik dari cerita rakyat Karo. Komposisi ini akan saya bagi menjadi empat bagian yang besar. Setiap bagian berdurasi limabelas menit sehingga dari keseluruhan komposisi berdurasi enam puluh menit. Secara garis besar saya menemukan empat fenomena yang terdapat dalam cerita, yang menjadi landasan saya untuk membagi komposisi ini menjadi empat bagian. Di setiap bagian akan ada sub-sub bagian, namun sub bagian ini masih dalam kerangka bagian yang besar.
Bagian pertama, akan menceritakan Rudang Bulan bergembira dan senang ketika ayahnya menghadiahi seekor kuda, hingga pelariannya ke hutan dengan pemuda yang dipercayakan ayahnya untuk mungurus kuda yang dihadiahkannya untuk putrinya. Banyak hal yang terjadi dalam bagian ini. Direncanakan pada bagian ini semua pendukung komposisi ikut berperan serta untuk memainkan part nya masing-masing. Sarunai, kulcapi akan berperan membawa melodi yang sebelumnya telah digarap dan diikuti salah satu pola ritmis yang baru oleh pendukung lainnya dengan teriak kemeriahan. Semua pendukung akan berjalan dari belakang penonton menuju stage yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh SM (stege manager).
Bagian kedua adalah , bagaimana Tare Iluh yang ditinggalkan Rudang Bulan ditengah hutan hingga mereka bertemu kembali pada saat pertandingan catur setelah berpuluh tahun. Kedua perasaan yang berbeda pada diri mereka akan dituangkan dalam bentuk komposisi musik. Alat musik yang digunakan di bagian ini direncanakan penggabungan beberapa alat musik tradisi yang ada di Sumatera Utara, namun akan dikemas sehingga element musik Tradisi Karo tidak tertinggalakan. Disamping musik yang bernuansa sedih ada bernuansa gembira. Dalam bagian ini yang lebih menonjol adalah ritmis-ritmis yang sudah diciptakan sebelumnya.
Bagian ketiga, menceritakan tentang hal-hal yang terjadi ketika pertandingan catur Raja dengan Tare Iluh sampai dengan hasil pemenang dari pertandingan.. Element-elemen musik tradisi sangat dominan pada saat ini. Surdam salah satu instrumen tradisi pada masyarakat karo akan berperan sebagai pembawa melodi. Gesekan biola dan tiupan brass akan menjadi stimulus untuk mendukung alat-alat musik tradisi yang akan dimainkan. Fenomena kultural sangat terasa dimana, banyak hal-hal budaya yang terkandung didalamnya. Pada bagian inilah nantinya akan dimainkan pola ritmis-pola ritmis yang ada pada masyarakat Karo yang sudah dimelodikan menjadi sebuah lagu. Pemilihan alat musik yang akan memainkan melodi ini akan dilakukan secara selektif, sesuai dengan apa yang terjadi dalam aplikasi nantinya. Masih banyak hal yang belum dapat saya tuangkan ke dalam tulisan ini. Harapan saya bagian ini yang akan menjadi klimaks dalam komposisi senggulat mbacang.
Bagian keempat, kekalahan Tare Iluh dalam pertandingan catur sampai pilihan hukuman terhadap dirinya. Semua pemain musik akan mengambil bagian dalam komposisi. Sistem canon akan dilakukan oleh beberapa instrumen. Sekwen juga mengambil peran penting, dimana ada sebenarnya ketidak adilan yang terasa. Siapa, mengapa dan bagaimana, justru yang timbul pertanyaan dalam bagian ini. Pertanyaan akan terjawab setelah menyaksikannya.
Penotasian dari keseluruhan sajian sedang dalam proses.

2.6. Orisinalitas Karya Seni
Karya musik Senggulat Mbacang ini merupakan gubahan dari penyusun, yang ide serta konsep musikalnya berasal dari memori musikal yang pernah didengar maupun dipelajari. Secara gendre musikalitasnya, karya tersebut mkemang terkesan familiar dan sudah pernah ada, namun secara garapnya merupakan hasil gubahan penyusun.
Karya ini merupakan sebuah penemuan baru jika ditinjau dari sistem kerja dan cara penyajiannya. Pada dasarnya sistem kerja dan alat yang digunakan tidak sesuai dengan fungsi sebenarnya, dan juga merupakan hasil dari imajinasi penyusun dalam mengamati dan mendengarkan bunyi yang bercerita tentang cerita rakyat.
Jika ditinjau dari suara yang dihasilkan dari instrumennya, merupakan sebuah penemuan penyusun dalam meramu instrumen yang menghasilkan komposisi musik baru. Sebuah kebaruab dan memerlukan kejelian yang tinggi dalam mentransfer sebuah fenomena bunyi kedalam garap musikal.
Senggulat Mbacang adalah sebuah sebuah cerita rakyat pada masyarakat Karo, yang penyusun coba tuangkan dalam bentuk karya musik yang utuh, merupakan hasil gubahan penyusun dari elemen-elemen musikal yang sudah ada yaitu pola-pola ritmik yang ada pada musik Karo diolah dan dikembangkan menjadi sebuah komposisi musik.

BAB III
PROSES PENCIPTAAN KARYA

3.1. Observasi
Dalam melaksanakan observasi, sebagian telah berlangsung selama hidup. Semenjak lahir hidup dalam lingkungan tradisi Karo sehingga telah menjadi darah daging sebagian besar darihasil penggarapan ini.
Pendidikan pasca sarjana merupakan alat yang sangat penting untuk menghasilkan karya ini dengan cara mengklasifikasi bagian-bagian dari pengalaman-pengalaman kesenian sehingga terorganisir secara sistematis. Hal ini dapat dilihat sebagi contoh bahwa penggarap telah mendengar dan mengetahui sehingga merasakan nikmat terhadap cerita senggulat mbacang pada masa kanak-kanak. Demikian juga dapat memainkan berbagai instrumen sejak sekolah lanjutan.
Hal ini dapat berlangsung karena kecintaan penggarap terhadap kesenian tradisi Karo pada umumnya walaupun secara akademis lebih mengutamakan musik barat. Dalam proses penciptaan tugas akhir yang bertemakan cerita rakyat Senggulat Mbacang penyusun melakukan observasi secara musikal maupun non musikal. Segala sesuatu yang berhubungan dengan cerita menjadi target utama observasinya.
3.2. Proses Penciptaan Karya
Proses penciptaan musik Senggulat Mbacang berawal dari hasil pengamatan penyusun dalam meresapi dan nilai-nilai yang ingin disampaikan dari cerita . Kekaguman penyusun atas filosofi dalam cerita sangat bermakna bagi masyarakat pendukunganya.
Dari kertertarikan berlanjut dengan pegamatan terhadap anatomi cerita Sengulat Mbacang, penyusun terinpirasi menghasilkan karya dialogis dengan sistem stimulus respon sebagai karakter komunikasi musikal. Dalam perosesnya,penyusun berushan mengekplor segala kemampuan mengolah instrumen dan pokal demi meraih pencapaian kemampuan intrumen tradisi dan kepenuhan jiwa yang tertuang dalam karya-karya yang dapat dipertanggung jawabkan.
Adapun lagkah kerja kekaryaan ini secara sederhana dilakukan dengan menyusun kegiatan sebagai berikut :
Melakukan pengamatan terhadap materi kesenian tradisi Karo secara menyeluruh untuk menggarap karya yang akan dipertunjukkan sebagai bahan karya akhir.
Melakukan pendekatan dari bunyi intrumen diluar tradisi Karo mengandung subtansi tradisi musik Karo.
mengekplorasi dengan menelusuri dan mengolah bahan intrumen dan nuansa bunyi untuk kepentingan dalam bagian karya ini nantinya.
Pada tahap berikutnya persiapan untuk latihan gabungan dari seluruh materi yang telah siap dalam karya ini.
Hasil no.4 dikirim ke pembimbing Prof.DR.Pande Made Sukerta untuk mendapatkan bimbingan dan pentunjuk demi kesempurnaan karya.



3.3. Hambatan dan Solusi
Selama menjalankan proses tugas akhir ini, penyusun tidak mengalami hambatan secara ide, karena telah dipersiapkan secara matang konsep kekaryaan ketika perkuliahan di pps ISI Surakarta.
Ketika proses awal latihan berlangsung ada beberapa kendala yang dialami oleh penyusun seperti mengumpulkan seluruh pendukung acara sebanyak 33 orang. Mempertemukan pendukung sebanyak ini tidak terlalu mudah karena masing-masing pendukung mempunyai pekerjaan lain disamping mereka sebagai mahasiswa. Diantara pendukung kebanyakan yang sudah bekerja di lembaga-lembaga seni yang ada di Sumatera utara.



BAB IV
PERGELARAN KARYA

4.1. Sinopsis
Mitos tidak lain adalah turi-turin (dongeng), merupakan sebuah cerita yang lahir dari hasil imajinasi manusia, dari khalayan manusia, walaupun unsur-unsur khalayan tersebut berasal dari pada yang ada dalam kehidupan manusia sehari-hari. Dalam mitos inilah khayalan manusia memperoleh kebebasannya yang mutlak, karena disitu tidak ada larangan bagi manusia untuk menciptakan mitos apa saja. Di situ bisa ditemukan hal-hal yang tak masuk akal, yang tidak mungkin kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Kita biasa mendengar mitos atau dongeng kancil yang berhasil menipu buaya, pawang ternalem, kuda si tajur, perlanja sira dan sebagainya, yang semua itu tidak pernah kita temukan dalam kenyataan.
Karena mitos adalah produk imajinasi manusia tentu saja tidak asal dibuat. Mitos yang disampaikan melalui bahasa mengandung pesan-pesan yang harus kita refleksikan. Pesan-pesan dari sebuah mitos diketahui dari penceritaannya. Pandangan seperti inilah sebenarnya yang membuat orang hingga kini masih selalu berusaha mencari dan menggali pesan-pesan yang dianggap ada dibalik mitos tersebut.
Senggulat Mbacang adalah salah satu mitos pada masyarakat karo, yang menyampaikan berbagai pesan-pesan yang abstrak. Setiap manusia mempunyai nalar yang berbeda-beda untuk menemukan makna dan pesan dari sebuah mitos. Mari kita gali dan refleksikan makna dan pesan yang terkandung dari mitos senggulat mbacang.
Dahulu cerita ini selalu dituturkan dari mulut ke mulut oleh para orang tua atau para penutur untuk mengingatkan akan arti kesetiaan dan janji yang harus senantiasa dipegang teguh sampai kapanpun. Sayangnya generasi sekarang banyak yang belum mengetahui cerita ini karena derasnya arus globalisasi melanda hehidupan mereka ditambah lagi, keberadaan penutur yang sudah semakin langka.


4.2. Deskripsi Lokasi
Penyelengaran tugas akhir ini akan dipergelarkan di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) Medan dengan mengambil ruang tertutup (gedung).tempat tersebut merupakan kantong kesenian sebagia tempat proses kreativitas seniman baik tradisi dan non tradisi. Ujian akan diselenggarakan pada tanggal 22 Agustus 2009, pukul 19.30 Wib sampai selesai. Denah lokasi pertunjukan akan dilampirkan pada bimbingan berikutnya.
4.3. Penataan Pentas
Penataan pentas memakai sistem diatas panggung. Intrumen pendukung karya diletakkan dan diatur kemudian .gambar penataan pentas akan dilampirkan pada bimbingan berikutnya.

4.4. Durasi Karya.
Durasi komposisi musik Senggulat mbacang akan diselenggarakan selama 60 menit. Merupakan rangkaian komposisi yang saling terkait dalam pergelararan komposisi ini tidka ada jeda, menit pertama sampai akhir saling menyambung namun akan dapat dibedakan dari bagian dan subbagian masing-masing komposisi.
Komposisi ini terdiri dari empat bagian yang masing-masing memiliki durasi yang berbeda, sehingga dari keseluruhan karya bedurasi 60 menit.



4.5. Susunan Acara
Susunan acara dalam pergelaran ini dimulai dari pembukaan yang dibawakan oleh pembawa acara, kemudian pembacaan sinopsis dan pergelaran karya. Sinopsis akan dibacakan hanya setelah pembukaan pergelaran karya.
Pergelaran ini dipersembahkan kepada seluruh kalangan masyarakat untuk mendengar dan menyaksikan.


4.6. Pendukung Karya
Komposisi Senggulat mbacang melibatkan beberapa pendukung antara lain
- Group Incidental Musik sebanyak 9 orang
- Gesek 11 orang
- Tiup 3 orang
- Perkusi 10 orang
Nama-nama pendung karya musik Senggulat Mbacang akan dilampirkan pada bimbingan berikutnya.



DAFTAR ACUAN

Pps ISI Surakarta, (2007-2008) Perkuliahan Penciptaan Seni Musik semester
I sampai III.

Kumalo, Tarigan (2006) Mangmang: Analisis dan Perbandingan Senikata
dan Melodi Nyanyian Ritual Karo di Sumatera Utara. Skripsi S2,
Etnomusikologi Universitas Sains Malaysia.

Prinst, D. & Prinst, D.(1985). Sejarah dan Kebudayaan Karo. Jakarta: CV.
Irama.


Audio

1. Djasa Tarigan............................ Kulcapi
2. Ngalemisa br Ginting.................Katoneng-katoneng


Wawancara

Nama : Renceng Thomas Ginting
Umur : 60 Tahun
Alamat : Desa Barus Jahe, Kec Barus Jahe.

Nama : Djasa Tarigan
Umur : 50 Tahun
Alamat : Komplek Lona Garden Medan

Nama : Kumalo Tarigan
Umur : 50 Tahun
Alamat : Etnomusikologi USU Medan





DAFTAR ISTILAH (GLOSARIUM)

LAMPIRAN


Biodata Pencipta


Nama : Pulumun Petrus Ginting S.Sn.

Tempat/Tgl Lahir : Barusjahe, Sumatera Utara 11 Mei 1971

Alamat : Jl. Mesjid Syuhada No. 16 Psr VI Padang

Bulan Medan 20131 INDONESIA

Nama Ayah : Renceng Thomas Ginting (Alm)

Nama Ibu : Lelem Br Sembiring

Nama Istri : Ely Br Sitepu

Nama Anak : Fillinlife Fransiskus Ginting



II. PENDIDIKAN



1. SD Negeri 3 Tiga Jumpa 1978 -1984

2. SMPNegeri Tiga Jumpa 1984 – 1987

3. SMM Negeri Medan 1987 – 1991

4. Universitas HKBP Nommensen 1991 – 1998

5. Samba-likhaan : The Asian School of Music, Worship and Arts. Attended

6. One Year of Studies, Quezon City – Metro Manila, Philippines 2001 – 2002

7. Pascasarjana ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta 2007 - 2009



[1] Katoneng-katoneng : Sebuah cerita yang diungkapkan melalui nyanyian, yang sampai sekarang dinyanyikan untuk acara-acara adat pada masyarakat Karo. Ungkapan atau isi hati ini dinyanyikan dengan syair yang spontanitas, jenis nyanyian ini dinyanyikan juga oleh orang tua yang hendak menidurkan anaknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar